Bolehkah Aqiqah Diri Sendiri Ketika Sudah Dewasa / Baligh?

Aqiqah merupakan salah satu sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dalam hadits riwayat At Tirmidzi beliau bersabda bahwa “setiap anak yang terlahir terikat dengan aqiqahnya sampai disembelih pada hari ketujuh kelahirannya hingga diberi nama”. Sebagai umat Rasulullah SAW maka kita sebaiknya melakukan sunnah-sunnah yang diajarkan beliau supaya kelak di akhirat mendapat syafaat dari Rasulullah SAW.

Sama halnya dengan ibadah lain yang memiliki aturan masing-masing, meskipun sunnah aqiqah juga memiliki tata cara atau aturan dalam pelaksanaannya sesuai dengan syariat islam. Aqiqah sebaiknya dilakukan sesuai sunnah yakni setelah kelahiran  seorang anak hingga pada hari ke tujuh. Hadits tersebut sesuai dengan HR. Ahmad dan Ashabus Sunan bahwa Rasul bersabda. “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya; ia disembelihkan pada hari ketujuh (setelah kelahirannya, dicukur, dan diberi nama”.

Lalu muncul satu pertanyaan bagaimana jika dulu orang tua saya belum mengakikahkan saya pada saat bayi, dan saya ingin aqiqah untuk diri sendiri sekarang? Memang hal tersebut sering dipertanyakan oleh masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama muslim. Sebagai umat muslim tentu kita semua ingin melaksanakan seluruh ibadah baik wajib maupun sunnah. Meski demikian dalam melaksanakan ibadah harus sesuai dengan aturan yang ada.

Berkaitan pertanyaan tersebut, sesuai  dua hadits sebelumnya jika aqiqah merupakan ibadah sunnah yang ditanggungkan oleh orang tua pada saat anak masih kecil (belum baligh). Dalam hal ini jika aqiqah dilakukan untuk orang yang sudah baligh terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama. Ada ulama yang membolehkan aqiqah untuk diri sendiri ketika dewasa dan ada pula yang berpendapat bahwa tidak perlu.

 

Pendapat Ulama yang Membolehkan

Terdapat sebagian ulama yang memiliki pandangan bahwa aqiqah boleh dilakukan pada saat seseorang sudah dewasa. Beberapa ulama yang berpendapat yakni Ar-Rafi’i, Al-Qaffal, Muhammad bin Sirin, Atha’ dan Al Hasan Al Bisri. Ulama-ulama yang membolehkan menggunakan hadits diantaranya riwayat Al Bazzar berikut:

أَنَّ النَّبِيَّ عَقَّ بِنَفْسِهِ بَعْدَ النُّبُوَّةِ

Bahwa Nabi SAW menyembelih hewan aqiqah untuk dirinya sendiri setelah diangkat menjadi nabi. (HR. Al-Bazzar)

Salah satu ulama bermahzab Syafi’i, Ar-Rafi’i berpendapat bahwa sebenarnya nilai sunnah pada ibadah aqiqah tersebut sudah gugur karena aqiqah merupakan tanggungan orang tua dan dilakukan pada saat anak masih kecil (belum baligh). Meski demikian, aqiqah masih  tetap diperbolehkan berdasar pendapatnya.

Pendapat Ar-Rafi’i diperkuat oleh Al Hasan Al Bashri yang memberikan fatwa dalam kitab Al Muahalla (Ibnu Hazm, Al Muhalla bin Atsar, jilid 6 Hal.240) : Apabila orang tua (ayah) belum mengaqiqahkan anak laki-lakinya, maka ketika anak tersebut dewasa dan memiliki rizki, dipersilahkan jika ia ingin menyembelih hewan untuk aqiqah dirinya sendiri.

 

Pendapat Ulama yang Berpendapat Tidak Perlu

Imam Ahmad bin Hanbal memiliki pendapat tidak perlu untuk mengaqiqahkan diri sendiri ketika sudah dewasa. Belaiau mengatakan alasannya karena syari’at dan perintah menyembelih hewan untuk aqiqah bukan ketika dewasa melainkan di pundak orang tua. Ibnu Qudamah salah satu ulama yang mengikuti mahzab Imam Ahmad bin Hanbal berkata,”Menurut kami, penyembelihan itu disyariatkan sebagai beban bagi orang tua dan orang lain tidak dibebankan untuk melakukannya, seperti shadaqah fithr” (Ibnu Qudamah, Al Mughini  Jilid 8 Hal. 646)

Wallahu’alam Bishawab

Bagikan kabar baik ini :)

Tentang Penulis

ummiaqiqah